SEKILAS INFO
27-04-2026
  • 11 bulan yang lalu / PPDBM MIN 2 Pontianak Tahun Pelajaran 2025/2026 dilaksanakan secara Online # Tgl 01-22 Juni 2025 “Sosialisasi PPDB” # Tgl 23-24 Juni Pendaftaran Online # Tgl 28 Juni 2025 “Pengumuman Kelulusan”#Tgl 30 Juni 2025 ” Daftar Ulang”#Tgl 1 Juli 2025 “Penyerahan Berkas”#Silahkan pantau selalu Website min2pontianak agar tidak ketinggal informasi. Terimakasih
13
Mei 2020
0
PENDIDIKAN ADALAH PERJALANAN

Saya mengenal istilah pendidikan pertama kali saat duduk dibangku sekolah dasar, ketika saya menyadari ternyata hari-hari saya diisi dengan bersekolah. Sebagaimana anak-anak pada umumnya, saat itu banyak nasihat yang saya terima, baik dari orang tua, keluarga, guru, hingga orang-orang lebih tua yang saya kenal. Diantara sekian banyak nasihat itu, ada satu pesan Nenek (rahimahullah) yang cukup melekat dalam ingatan saya.

“Sekolah, biar pintar, jangan kayak Nenek”

Saat itu, saya belum begitu mengerti makna pesan tersebut. Sekolah? Biar pintar? Mungkin itu memang pesan yang sangat biasa dan masuk akal bagi anak seumuran sekolah dasar. Meski yang terbayang dari kata “pintar” berarti mendapat nilai tinggi saat ulangan. Tapi, tunggu, kalau “Jangan kayak Nenek”? Saya sama sekali belum mengerti bahkan mengabaikan kata-kata itu. Hingga beberapa waktu belakangan kala itu, saya tahu bahwa ternyata Nenek tidak pernah mengenyam bangku sekolah yang menyebabkan beliau tidak memiliki bekal baca tulis. Long story short, nasihat “Sekolah, biar pintar, jangan kayak Nenek” hampir menguap begitu saja. Hingga saya dipertemukan dengan hari ini, hari Pendidikan Nasional.

“School is a place you go if there is something you don’t know. Life is an opportunity for you to know experientally what you already know conceptually” -Walsch, Donald-

Sejak memasuki dunia sekolah, orang tua saya tidak pernah berpesan untuk meraih nilai tinggi yang bisa mengantarkan saya untuk menjadi jawara di kelas. Sama halnya dengan tidak memberi tekanan dalam belajar ataupun mengerjakan PR agar menjadi siswa “sempurna” di sekolah. Seingat saya, hanya beberapa kali saja saya diminta untuk belajar sungguh-sungguh, itupun ditengah kebijakan nilai standar kelulusan saat ujian akhir SMP dan SMA.

Belajar tanpa beban dan kekhawatiran terhadap hasil yang diperoleh, membentuk pribadi saya untuk menghargai proses, yakin atas kemampuan diri, berikhtiar sebaik-baiknya, lantas menyempurnakan semua upaya belajar tersebut dengan do’a. Belajar tanpa beban hasil, justru menjadikan kita sadar diri dan bertanggung jawab. Konsep sadar diri ini menjadi penting untuk memahami bahwa rasa ingin tahu (seharusnya) adalah salah satu alasan mendasar dalam belajar di sekolah, rasa ingin tahu yang menjadi benih tumbuhnya pola berfikir manusia. Pemahaman ini pun sebenarnya baru saya sadari dimasa-masa menyelesaikan kuliah sarjana beberapa tahun lalu.

“Success in life is all about how you deal with failure,” -Carol Dweck-

Lebih jauh, sukses dalam hidup pada akhirnya bukan tentang berhasil meraih nilai tinggi. Bukan pula menjadi yang pertama. Pendidikan memang sebaiknya dipahami sebagai bagian penting untuk menjadikan seseorang mampu menerima kegagalan, lantas bangkit, beradaptasi serta bersikap benar dalam menghadapi sesuatu. Mungkin ini juga makna terselubung yang ingin disampaikan orang tua, dengan tidak pernah memaksa saya untuk meraih prestasi karena nilai mata pelajaran saat menempuh masa-masa pendidikan. Membiarkan saya bebas menjalani proses, agar satu-satunya alasan untuk belajar adalah kemauan dan rasa ingin tahu.

Keingintahuan merupakan hal yang sederhana namun istimewa, menjadikan alasan bersekolah bukan hanya soal nilai, gelar atau bahkan formalitas belaka. Bagi saya, rasa ingin tahu mampu memperkuat keyakinan saat menghadapi ujian, menghilangkan kegalauan tentang nilai, dan tak kalah penting, ia menumbuhkan semangat belajar tak kenal henti dalam banyak hal di kehidupan. Sepertinya, tanpa rasa ingin tahu pada apa yang kita pelajari, hampir dipastikan rasa belajar kita pun akan terasa hambar.

“Try not to become a man of success, but rather try to become a man of value.” -Albert Einstein-

Pesan Einstein diatas sedikit banyak memberi perspektif baru bagi saya. Kalau mau ekstrim, pesan ini bisa saja diartikan untuk menyuruh orang agar tidak mengejar kesuksesan. Orang sukses belum tentu berguna, gitu kira-kira. Tapi agaknya Einstein mau bilang pada dunia, kalau kita fokus untuk menjadi orang yang berguna, sukses akan datang sendirinya. Terlebih, kalau memilih peran sebagai valuable man, kita punya kesempatan untuk berkontribusi dan bermanfaat, mengubah bahkan membuat dunia menjadi lebih baik. Sampai sini, saya jadi sadar, we have to think differently.

Dan akhirnya, pesan “Sekolah, biar pintar, jangan kayak Nenek” adalah harapan dari seorang Nenek yang ingin anak cucunya bisa lebih baik dari dirinya. Sebuah pesan sederhana yang membekas hingga hari ini. Pesan yang juga relevan dengan makna pendidikan sebagai sebuah proses untuk mengubah sikap serta tata laku seseorang menjadi lebih baik, menjadi lebih dewasa, menjadi lebih bermanfaat.

Oleh karenanya, bagi saya, pendidikan adalah perjalanan yang punya makna di setiap episodenya. Lebih penting bagi kita untuk menyelamatkan pendidikan, daripada sekedar mengucapkan selamat hari pendidikan.

// Ridho Brilliantoro | Pontianak, 2 Mei 2020 http://idhobrilliant.wordpress.com/2020/05/03/pendidikan-adalah-perjalanan/

*Ditulis saat kali pertama Ramadan tanpa Nenek, Ramadan 1441 H. Sampai kapanpun, Kakek dan Nenek akan selalu punya tempat di hati cucu-cucunya. Alfatihah.

Kategori

Arsip